Selasa, 04 Juni 2013

Psikologi Sosial




       Psikologi sosial merupakan perkembangan ilmu Pengetahuan yang baru, dan merupakan cabang dan ilmu pengetahuan psikologi secara umumnya. Ilmu tersebut menguraikan tentang kegiatan-kegiatan manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial, sepeti situasi kelompok, situasi massa dan sebagainya, termasuk didalamnya interaksi antar orang dan hasil kebudayaannya.
Ada beberapa definisi psikologi sosial sebagai berikut :
  1. Paedagogik , psikologi sosial adalah ilmu jiwa yang mempelajari gejala-gejala psikis pada massa , bangsa, golongan, masyarakat dan sebagainya.
  2. Hubert Bonner, psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia.
  3. Sherif&sherif, psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi perangsang sosial.
  4. Roueck and Warren, psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari segi-segi psychologis daripada tingkah laku manusia, yang mempengaruhi oleh intraksi sosial.
  5. Kimball Young (1956) Psikologi sosial adalah studi tentang proses interaksi individu manusia.
  6. Joseph E. Mc Grath (1965) Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tingkah laku manusia sebagaimana dippengaruhi oleh kehadiran, keyakinan, tindakan, dan lambang-lambang dari orang lain.
  7. Gordon W. Allport (1968) Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mengerti dan menerangkan bagaiman pikiran, perasaan dan tingkah laki individu dipengaruhi oleh kenyataan, imajinasi, atau kehadiran orang lain.
  8. W. A. Gerungan : “ilmu jiwa adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari dan menyelediki pengalaman dan tingkah laku individu manusia seperti yang dipengaruhi atau ditimbulkan oleh situasi-situasi sosial”.
          Dari rumusan-rumusan tersebut dapat kita simpulkan secara singkat bahwa : Psikologi sosial adalah suatu studi ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku individu-individu dalam hubungannya dengan situasi sosial.

Himpunan bilangan bulat dan riil dan juga skemanya

Pembahasan tentang bilangan bulat (integers) tidak bisa dipisahkan dari uraian tantang bilangan asli (natural numbers) dan bilangan cacah (whole members) karena kreasi tentang bilangan-bilangan ini merupakan proses sosial dan budaya yang berlangsung berurutan dalam waktu ribuan tahun.
Konsep tentang bilangan dan cara mencacah (menghitung, counting) berkembang selama sekitar 15.000 tahun, mulai dari zaman prasejarah (poleolithic, Old Stone Age) sampai dengan zaman sejarah (sekitar tahun 400 S.M.). Dalam periode atau zaman ini, mereka diduga telah emmpelajari cara bertani atau bercocok taman, cara berternak, cara menggunakankaleder, cara mengukur atau menimbang berat, cara memindahkan barang dengan kereta atau gerobak, cara membuat perahu, cara berburu, cara pengobatan tradisional, dan cara berhitung.

1. Bilangan Asli
Sejak periode sejarah, diduga dimulai sekitar tahun 400 S.M., orang melalui memikirkan bilangan sebagai konsep abstrak. Misalnya, mereka menyebut tiga kerikil dan tiga binatang mempunyai sifat persekutuan, yaitu suatu kuantitas yang disebut tiga. Sifat persekutuan tiga ini bisa dimiliki oleh kelompok benda apa saja sehingga sifat ini menjadi terbatas dari obyek atau sasaran pembicaraan. Dalam istilah yang lebih sederhana, sifat-sifat persekutuan satuan (oneness), duaan (twoness), atau tigaan (threeness) merupakan sifat persekutuan yang dimiliki oleh sebarang kumpulan benda untuk menunjukkan kesamaan kuantitas.
Keperluan tentang kuantitas merupakan kebutuhan dasar manusia dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, terutama untuk menghitung (mencacah) dan mem­ban­dingkan jumlah barang atau benda.
Ke­perluan menghitung (mencacah, counting) mendorong orang untuk mencari cara yang mudah, antara lain dengan membuat lambang bilangan (muneral) dan cara me­ng­gu­nakannya (sistem numerasi). Sistem numerasi membuat sekumpulan lambang dasar dan sejumlah atauran untuk menghasilkan lambang-lambang bilangan yang lain. Beberapa peradaban yang telah mengembangkan sistem numerasi antara lain adalah Mesir (sekitar tahun 3000 S.M.), Babylonia (sekitar tahun 2000 S.M.), Yunani atau Greek (sekitar tahun 600 S.M.), Mayan (sekitar tahun 300 S.M.), Jepang – China (sekitar tahun 200 S.M.), Romawi (sekitar tahun 100 M), dan Hindu-Arab (mulai sekitar tahun 300 S.M. di India, mengalami perubahan di wilayah timur tengah sekitar tahun 750 Masehi, berkembang di Eropa dan dipakai di seluruh dunia sampai sekarang). Dari uraian di atas kita dengan singkat telah melihat perjalanan pengembangan konsep bilangan sejak pertama kali pada zaman Poleolithic sampai pada zaman sejarah. Dengan demikian kita perlu membuat asumsi bahwa manusia telah menemukan konsep bilangan asli (counting/natural members) dan telah menemukan himpunan lambang untuk me­nya­takan konsep bilangan asli yaitu 1, 2, 3, 4, …
Untuk selanjutnya himpunan bilangan asli dinyatakan dengan
N = {1, 2, 3, 4, … }

2.  Bilangan Cacah
Untuk kepentingan masyarakat zaman pertanian, sebelum zaman revolusi, mereka hanya memerlukan mencacah, menjumlah, dan mengalikan. Seiring dengan per­kem­bangan zaman, mesyarakat memerlukan sistem bilangan yang dapat memenuhi ke­per­lu­an lain, yaitu mengurangkan dan membagi. Dengan demikian mereka mem­pu­nyai tun­tutan pekerjaan yang tidak sekedar berhitung (aritmetika) tetapi hal lain yang lebih luas.
Jika sebelumnya mereka menerima pernyataan tanpa bukti (postulat):
p + q  adalah suatu bilangan asli
p x q  adalah suatu bilangan asli
maka kesulitan akan muncul ketika pengertian pengurangan mulai diperkenalkan melalui penjumlahan:
p – q =  r  jika ada r sedemikian hingga p = q + r
Kita bisa melihat kesulitan itu. Pengurangan pada unsur-unsur hipunan bilangan asli dapat dilakukan hanya jika p lebih dari q, artinya himpunan bilangan asli tidak bersifat tertutup terhadap pengurangan. Pada awalnya tentu mereka memahami bahwa:
3 – 2 =  1, 4 – 3 = 1, 5 – 4 =  1
dan mulai mempertanyakan bagaimana dengan
3 – 3 = ? , 4 – 4 = ?,  5 – 5 = ?
Jawabannya adalah mereka perlu “tambahan” bilangan baru, yang kemudian disebut dengan nol (zero), yang diberi makna:
3 = 3 + 0, 4 = 4 + 0, 5 = 5 + 0
Sekarang kita telah menambahkan unsur baru 0 ke dalam sistem bilangan asli, sehingga diperoleh himpunan baru yang disebut himpunan bilangan cacah, dinyatakan dengan:
W = {0, 1, 2, 3, 4, …}

3.  Bilangan Bulat
Dengan berkembangnya masyarakat industri, manusia memerlukan bilangan untuk ke­perluan pembukuan tingkat lanjut, antara lain untuk menghitung hutang dan pihutang, serta tabungan dan pinjaman. Pertanyaan yang muncul serupa dengan permasalahan:
6 – 7 = ?,  8 – 10 = ?, 3 – 10 = ?
Permasalahan ini serupa dengan usaha menambah bilangan-bilangan baru di dalam W sehingga mereka dapat melakukan semua pengurangan, atau himpunan baru yang di­peroleh bersifat tertutup terhadap pengurangan.
Jawaban terhadap kesulitan mereka adalah tambahan bilangan-bilangan baru yang diperoleh dari:
0 – 1, 0 – 2, 0 – 3, 0 – 4, …
yang kemudian dilambangkan dengan:
-1, -2, -3, -4, …
sehingga diperoleh himpunan baru yang disebut himpunan bilangan bulat, dan dinyatakan dengan:
Z = {…, -2, -1, 0, 1, 2, 3, …}
Dengan  digunakannya garis bilangan untuk menyatakan representasi bilangan, dan mem­beri makna terhadap bilangan-bilangan di sebelah kanan nol sebagai bilangan po­sitif serta di sebelah kiri nol sebagai bilangan negatif, maka himpunan bilangan bulat da­pat dinyatakan sebagai:
Z = {…, -2, -1, 0, 1, 2, 3, …}

 
 
SISTEM   BILANGAN   RIIL
Sistem bilangan riil dan sifat-sifatnya merupakan salah satu pilarutama dalam matematika, khususnya kalkulus. Dengan sistem bilanganini beserta operasi-operasi yang berlaku di dalamnya permasalahankomputasi matematika menjadi jelas dan mudah dilakukan. Namunsebelum meninjau lebih jauh mengenai apakah bilangan riil itu dan apasajakah sifat-sifatnya, akan ditinjau terlebih dahulu sistem bilangan yanglebih sederhana.
Beberapa  Sistem  Bilangan
 1. Sistem Bilangan Asli
Di antara bilangan yang sudah dikenal, bilangan asli merupakanbilangan yang paling sederhana. Dengan bilangan ini, kita dapatmenghitung obyek atau benda-benda yang ada di sekitar kita. Notasiuntuk himpunan semua bilangan asli adalah N= {1, 2, 3, … }.Himpunan ini beserta operasi tambah (+) dan kali (x) yang bersifattertutup di dalamnya atau dinotasikan dengan (N, +, x) membentuk suatusistem yang dinamakan sistem bilangan asli.
 
2. Sistem Bilangan Bulat
 Jika pada himpunan semua bilangan asli di atas ditambahkannegatifnya dan bilangan 0 sebagai unsur netral terhadap operasi +, maka  diperoleh himpunan Z = {0,±1,±2,±3, …}yang dinamakan himpunan semua bilangan bulat. Terhadap operasi + dan x yang bersifat tertutup di dalamnya,himpunan semua bilangan bulat Z ini atau (Z, +, x) membentuk suatusistem yang dinamakan sistem bilangan bulat.
 
3. Sistem Bilangan Rasional
Pada beberapa pengukuran besaran seperti pengukuran panjang,suhu atau arus listrik, bilangan-bilangan bulat boleh dikatakan tidakmemadai lagi, karena kurang memberikan ketelitian yang cukup baik.Oleh karena itu, hasil bagi dari bilangan-bilangan bulat seperti 41,32,83,716,54 dan11 sangat diperlukan. Perlu diperhatikan bahwa, kitatidak diperkenankan membagi suatu bilangan dengan nol.Bilangan-bilangan yang dapat dituliskan dalam bentuk nm, dengan m dan n adalah bilangan-bilangan bulat dan 0n, disebut bilangan-bilangan rasional. Selanjutnya himpunan semua bilangan rasional inidinotasikan  dengan   Q, sehingga Q =0dan,|n Z nm nm.

Senin, 03 Juni 2013

MENCERDASKAN EMOSI




Kecerdasan emosional dipopulerkan oleh Daniel Goleman. Bisakah emosi menjadi cerdas....???
         Seorang ahli psikologi, Peter salovey memetakan upaya tentang cara-cara kita cerdas secara emosi. Salovey merinci kemampuan cerdas secara emosi dengan lima ciri sbb :

1. Mengenali diri sendiri
Kemampuan ini adalah kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu

2. Mengelola Emosi
Menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan menangani perasaan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung ,sementara mereka yang pintar dapat bangkit dengan jauh lebih cepat.

3. Memotivasi diri sendiri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional ,menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhahsilan dan berbagai bidang.

4. Mengenali emosi orang lain
Kemampuan berempati adalah keterampilan bergaul. Orang yang empatik labih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan aatau dikehendaki orang lain. Orang-orang yang seperti ini cocok untuk pekerjaan-pekerjaan keperawatan,mengajar,menjual dan manajemen.

5. Membina hubungan 
Seni membina hubungan ini berhubungan dengan keterampilan mengelola emosi orang lain. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain. Mereka adalah bintang-bintang pergaulan.

IQ Dan kecerdasan emosional bukanlah keterampilan-keterampilan yang saling bertentangan. Kecerdasan emosional menambahkan jauh lebih banyak sifat-sifat yang membawa kita lebih manusiawi.



Matematika operasi antar himpunan dan diagram venn

Diagram Venn
Relasi antar himpunan sering disajikan dalam bentuk diagram, misalnya untuk relasi himpunan bagian maupun relasi saling lepas. Himpunan semesta biasanya digambarkan dalam bentuk persegipanjang yang melingkupi himpunan yang dibicarakan dimana notasi S dituliskan di sudut kiri atas bagian dalam. Gambar untuk himpunan-himpunan biasanya berupa lingkaran. Sedangkan anggota suatu himpunan dinotasikan dengan titik yang berada di dalam daerah lingkaran.
Diagram tersebut dinamakan diagram Venn sebagai penghargaan kepada ahli logika John Venn (1834-1923). Diagram Venn terkadang disebut Lingkaran Euler sebagai penghargaan kepada matematikawan Swiss, Leonhard Euler ( 1707 – 1783), yang pertama kali menggunakan daerah lingkaran dalam bidang logika. Diagram Venn digunakan untuk mempermudah pemahaman tentang himpunan, selain digunakan juga untuk memperjelas prinsip-prinsip logika.
Misalkan H = {a, i, u, e, o} sedangkan semestanya adalah himpunan S = {e, u, r, o, b, a, l, i}. Diagram Venn untuk himpunan H adalah



Misalkan A dan B dua himpunan dalam himpunan semesta S, apabila A Ì B, berarti pada diagram Venn himpunan A berada di dalam daerah himpunan B. Sedangkan apabila A dan B saling lepas, maka kedua lingkaran untuk A maupun B tidak beririsan. Perhatikan diagram Venn berikut.



5. Operasi Himpunan
Dalam himpunan bilangan real maupun himpunan bilangan bulat terdapat operasi dua bilangan seperti penjumlahan, perkalian dan pengurangan. Serupa dengan hal tersebut, dari dua himpunan dapat dilakukan operasi biner, yakni gabungan, irisan dan selisih.
Gabungan himpunan A dan B, dinotasikan A È B, adalah berupa himpunan yang anggotanya adalah anggota dari A atau B. Dalam notasi pembentuk himpunan, gabungan dua himpunan A dan B dinyatakan sebagai:
A È B = {x | x Î A atau x Î B }.
Diagram Venn dari operasi gabungan A dan B dinyatakan dengan daerah arsiran berikut:


Irisan dari himpunan A dan B, dinotasikan dengan A Ç B, adalah himpunan yang anggotanya adalah anggota dari A yang juga anggota dari B. Dalam notasi pembentuk himpunan, irisan himpunan A dan B didefinisikan
A Ç B = {x | x Î A dan x Î B }.
Untuk mempermudah penulisan, kata “dan” cukup ditulis dengan tanda koma “,”. Sehingga
A Ç B = {x | x Î A, x Î B }.
Diagram Venn untuk operasi irisan A dan B adalah:




Selisih himpunan A terhadap B didefinisikan sebagai
A \ B = {x | x Î A , x Ï B },
yakni merupakan himpunan yang beranggotakan semua anggota A yang tidak menjadi anggota B. Tanda garis miring “\” dapat juga diganti dengan tanda kurang “- “. Adapun diagram Venn dari A \ B adalah




Misal A = { 1, 3, 5, 7, 9 } dan B = { 2, 3, 5, 7 }, maka A È B = { 1, 2, 3, 5, 7, 9}, A Ç B = { 3, 5, 7 }, A\B = {1,9}, dan B\A = { 2 } dengan diagram Venn:





Misalkan A, B dan C adalah himpunan-himpunan dalam himpunan semesta S. Sifat-sifat yang berlaku dalam operasi gabungan dan irisan adalah

Sifat Idempoten

(1a) A È A = A (1b) A Ç A = A

Sifat Komutatif

(2a) A È B = B È A (2b) A Ç B = B Ç A

Sifat Asosiatif

(3a) AÈ(BÈC) = (AÈB)ÈC (3b) AÇ(BÇC) = (AÇB)ÇC

Sifat Distributif

(4a) AÈ(BÇC) = (AÈB)Ç(AÈC) (4b) AÇ (BÈC) = (AÇB)È(AÇC)

Sifat Identitas

(5a) A È Æ = A (5b) A Ç S = A
(6a) A È S = S (6b) A Ç Æ = Æ
Adapun operasi selisih dua himpunan tidak memenuhi sifat idempoten maupun sifat komutatif. Hal ini dikarenakan bahwa A \ A = Æ sedangkan A \ B tidak selalu sama dengan B \ A sebagaimana contoh di atas.
Sekarang misalkan A merupakan himpunan bagian dari himpunan semesta S, semua anggota S yang bukan anggota A membentuk himpunan yang disebut komplemen A, dinotasikan dengan Ac. Notasi pembentuk himpunan dari komplemen A adalah
Ac = {x | x Î S , x Ï A }
(Ac dibaca komplemen A). Perlu diperhatikan bahwa simbol komplemen Ac kadangkala ditulis sebagai A¢ atau . Diagram Venn dari komplemen A digambarkan sebagai daerah yang diarsir seperti berikut


Misalkan himpunan semesta S adalah himpunan semua bilangan bulat antara 1 dan 10, sedang A = { 2, 4 , 6 ,8 }. Dalam hal ini didapat S = {2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9}, sehingga Ac = { 3, 5, 7, 9 }. Diagram Vennnya adalah